Jumat, 30 September 2011

Memelihara Hewan Menyehatkan Emosi

Secara ilmiah telah terbukti memelihara hewan menguntungkan kesehatan fisik, mengurangi stres, bahkan mendeteksi gangguan penyakit. Beberapa binatang kini juga boleh dibawa pasien yang ingin melakukan tes kesehatan untuk mengurangi rasa takutnya.

Secara umum terdapat tiga manfaat emosional dan sosial dari memiliki hewan-hewan kesayangan.

1. Mudah bergaul

Dalam beberapa dokumentasi penelitian terungkap orang-orang cacat yang menggunakan jasa hewan pelayan tersebut memiliki self-esteem dan secara psikologi lebih baik dibanding orang yang hidup tanpa bantuan.

Orang tuna netra dan anak-anak di kursi roda yang memiliki anjing juga cenderung lebih aktif secara sosial. Pada umumnya para pemilik hewan peliharaan lebih akrab satu sama lain karena memiliki hal serupa untuk diobrolkan, dengan demikian mereka juga lebih mudah berteman.

2. Mengurangi stres

Tidak ada yang bisa mendengarkan semua keluh kesah Anda tanpa syarat dan tanpa menghakimi selain "si doggy" atau "si meong". Bersama mereka kita bisa mencurahkan segala perasaan dengan bebas. Mereka juga memiliki insting yang seolah bisa memahami suasana hati kita sehingga tanpa diminta mereka akan duduk menemani di samping kita.

Penelitian juga menunjukkan anak-anak yang menghadapi kematian orang tercintanya, pasangan yang bercerai, atau mereka yang trauma, lebih rendah risikonya untuk terkena depresi jika mereka memelihara hewan. Bermain dengan hewan kesayangan selama 15 menit telah terbukti meredakan kecemasan dan stres.

3. Membentuk ikatan

Rasa menyayangi yang timbul kepada hewan-hewan lucu peliharaan kita, begitu pun mereka pada tuannya, akan menyebabkan proses biokemikal dan berpengaruh pada otak. Akibatnya hormon-hormon tertentu akan meningkat, terutama yang berkaitan dengan perasaan nyaman, kepuasan, dan kebahagiaan.


kompas.com

Gangguan Kepribadian Antisosial

Kasus yang melibatkan terpidana mati Ryan atau Veri Idham Henyansyah kembali mencuat setelah adanya upaya peninjauan kembali (PK) dari pengacaranya terkait vonis hukuman mati yang dijatuhkan. Ryan Kamis (22/9/2011) kemarin hadir di Pengadilan Negeri Depok, Jawa Barat dalam persidangan dengan agenda pembacaan alasan kuasa hukum melakukan peninjauan kembali.

Kata-kata Gangguan Jiwa dan Psikopat kemudian mulai muncul dalam persidangan yang dikemukakan oleh pengacara Ryan. Sayangnya, penggunaan kata Psikopat ini tidak sepenuhnya tepat dalam kerangka diagnosis gangguan jiwa karena istilah tersebut sudah tidak dikenal dalam diagnosis gangguan jiwa.

Beberapa kalangan kesehatan jiwa kemungkinan besar akan menjawab sama bila ditanya tentang apa yang terjadi pada kesehatan jiwa Ryan. Kemungkinan diagnosis yang paling mungkin adalah suatu Gangguan Kepribadian Antisosial yang dulunya lebih dikenal sebagai Psikopat.

Tentunya hal ini merupakan diagnosis banding saja, karena untuk menegakkan diagnosis yang tepat perlu melakukan pemeriksaan yang langsung dan lengkap. Psikiater tidak mungkin mendiagnosis hanya berdasarkan berita di koran saja tanpa melihat pasien secara langsung.

Lalu apakah itu gangguan Kepribadian Antisosial? Gangguan kepribadian antisosial dalam pedoman diagnosis gangguan jiwa menurut DSM IV-TR (keluaran American Psychiatric Association) dan ICD 10 (keluaran Badan Kesehatan Dunia/WHO) merupakan bagian dari Gangguan Jiwa.

Orang yang mengalami gangguan kepribadian tidak menyadari dirinya sakit. Ia merasa tidak ada yang salah dengan dirinya, sehingga orang seperti ini tidak akan datang ke pikiater atau psikolog klinis untuk meminta disembuhkan. Ketiadaan tilikan ke dalam diri ini yang membuat gangguan kepribadian memiliki kemungkinan sembuh yang kecil.

Gangguan kepribadian yang banyak dihubungkan dengan perilaku kekerasan dan kriminalitas adalah gangguan kepribadian antisosial. Kepustakaan mengatakan sekitar 70 persen orang yang dipenjara mengalami gangguan kepribadian tipe ini. Bila mengalami gangguan ini, individu tidak mampu untuk mentaati norma-norma sosial yang ada di masyarakat. Walaupun banyak dihubungkan dengan tindakan-tindakan kriminal, bukan berarti gangguan ini sama artinya dengan kriminalitas.

Kejadian gangguan kepribadian ini di dalam masyarakat adalah sekitar 3 persen untuk laki-laki dan 1 persen untuk perempuan. Biasanya terjadi di daerah urban yang miskin atau tingkat ekonomi sosialnya rendah. Beberapa perilaku yang sering terjadi pada individu dengan gangguan ini adalah ; berbohong, kekerasan terhadap orang lain, kabur dari rumah, pencurian, berkelahi, penggunaan narkoba dan aktivitas-aktivitas melanggar hukum. Beberapa laporan mengatakan, perilaku tersebut dimulai bahkan saat masa kanak-kanak.

Individu yang mengalami gangguan seperti ini tidak mengalami gangguan kecemasan atau depresi akibat perbuatannya. Penjelasan yang terkadang di luar akal sehat tentang perbuatannya seringkali membuat ahli kesehatan jiwa berpikir apakah ini suatu gangguan skizofrenia. Tetapi dari pemeriksaan mental biasanya tidak pernah ditemukan adanya waham ataupun pikiran-pikiran tidak rasional.

Bahkan, seringkali individu dengan gangguan ini menunjukkan adanya daya pikir yang tinggi dan kemampuan berbicara yang melebihi rata-rata. Untuk itulah, sering ditemukan perilaku yang manipulatif terhadap orang lain. Mereka tidak dapat dipercaya dan hampir tidak pernah berkata benar tentang tindakannya. Kita melihatnya sebagai orang yang tidak punya hati nurani.

Apakah bisa dihukum?

Individu yang mengalami keadaan seperti ini biasanya tidak menyadari bahwa dirinya sakit. Hampir dapat dipastikan ketika gangguan ini berkembang, maka gangguan ini tidak akan mengalami masa perbaikan. Walaupun ada beberapa ahli yang mengatakan akan berkurang menjelang masa dewasa lanjut.

Kebanyakan gangguan kepribadian memang seringkali sulit diobati. Keadaan ini diperparah karena individu yang mengalami gangguan ini tidak punya tilikan atau kesadaran diri bahwa dirinya perlu diobati. Orang di sekitar individu yang akan merasakan dampak yang sangat tidak menyenangkan dari perilaku orang yang mengalami gangguan ini.

Walaupun disebut gangguan jiwa, tapi bukan berarti orang yang mengalami gangguan ini tidak dapat dihukum. Peristiwa yang terjadi pada kasus Ryan akan menempatkan Ryan pada tuntutan hukum yang jelas.

Seperti kita ketahui dulu, semua orang tahu bahwa Ryan melakukan hal tersebut salah satunya juga karena faktor materi. Ini dapat terlihat bahwa harta si korban diambil oleh pelaku. Ryan juga tahu kalau perbuatannya berkonsekuensi hukum sehingga menyembunyikan si korban dengan mengubur atau terakhir memutilasinya.

Dalam buku Psikiatri Forensik, guru saya pakar Psikiatri Forensik, Dr. Wahjadi Darmabrata, SpKJ(K), menyatakan, “Dahulu diagnosis gangguan jiwa dianggap cukup untuk menyatakan bahwa terdakwa dibebaskan dari tuntutan. Padahal, sebenarnya yang diharapkan adalah kepastian seberapa jauh kemampuan tanggung jawab terdakwa terhadap perbuatannya yang melanggar hukum.

Untuk itulah, pemeriksaan yang mendasar terhadap kasus Ryan perlu dilakukan oleh psikiater forensik yang memahami gangguan kejiwaan dan kriminalitas yang terkait dengan kondisi yang dialami pelaku.

Pemeriksaan yang tepat dan cermat akan membuat hasil pemeriksaan dapat menjadi bahan pertimbangan hakim dalam memberikan keputusan kepada pelaku yang sering dianggap mengalami gangguan jiwa dan tidak bisa dihukum.

* Psikiater, Pengamat Kesehatan Jiwa


kompas.com

"Penyakit Jiwa" Para Pejabat: Lupa Ingatan

Belakangan ini, menonton berita di televisi, apalagi terkait dengan pemberitaan pejabat di bumi tercinta ini, sering kali membuat kening berkerut. Betapa mudahnya beberapa pejabat mengatakan lupa ketika diperiksa, baik di KPK maupun di persidangan.

Belum lama ini, seorang menteri mengatakan lupa saat diperiksa sebagai saksi di pengadilan saat berurusan dengan kasus korupsi. Lalu beberapa hari kemudian seorang ketua partai besar juga tidak mengakui apa yang pernah dikatakan oleh sang bendahara tentang keterlibatannya dalam suatu perusahaan dan proyek yang ternyata merugikan negara.

Sayangnya, sebenarnya beberapa bukti yang terpampang jelas merujuk pada keterlibatan mereka dalam proses kejadian yang saat ini mereka sangkal dan katakan lupa.

Lupa ingatan itu sakit jiwa

Sebagai seorang psikiater, saya akrab dengan pasien-pasien yang lupa ingatan karena penyakit jiwa yang dinamakan 'demensia'. Yang paling sering datang ke tempat praktik saya adalah pasien dengan demensia alzheimer.

Demensia alzheimer adalah salah satu jenis demensia yang ditandai dengan penurunan secara nyata dari fungsi memori (kesulitan dalam belajar informasi baru dan memanggil informasi yang dipelajari sebelumnya) dan salah satu dari fungsi intelektual (gangguan bahasa, gangguan melakukan aktivitas motorik, kesulitan dalam mengenal benda, gangguan dalam fungsi eksekutif seperti merencanakan, mengorganisasi, pengabstrakkan dan merangkai tindakan).

Keadaan ini mengganggu fungsi pribadi dan sosial individu itu. Meskipun hanya merupakan salah satu dari jenis demensia, angka kejadian alzheimer paling tinggi (lebih dari 50 persen kasus demensia adalah demensia alzheimer). Biasanya demensia atau dikenal dengan penyakit pikun ini diderita oleh pasien yang berusia 60 tahun ke atas walaupun karena beberapa sebab seperti serangan stroke, trauma kepala berat, dan kencing manis yang tidak terkontrol, pasien bisa mengalami gejala-gejala demensia pada usia yang lebih dini. Gejala awal yang paling sering dialami oleh pasien yang mengalami demensia adalah lupa.

Demensia selektif

Lalu apakah yang terjadi pada para pejabat yang sering lupa ingatan terhadap peristiwa terkait tindak korupsi ini bisa dinamakan demensia? Rasanya hal itu memerlukan pemeriksaan yang lebih jauh. Hanya, secara gamblang, kita melihat bahwa apa yang dialami oleh para pejabat ini sepertinya hanya lupa hal-hal tertentu (selektif), bukan lupa semuanya.

Seorang pasien yang mengalami demensia, apalagi tipe alzheimer, memiliki daya pikir yang semakin lama semakin menurun. Pasien sering bahkan sudah mulai lupa tempat tinggalnya di mana atau merasa tempat tinggalnya saat ini bukan rumahnya. Pasien juga bisa lupa dengan anggota keluarganya, bahkan anak-anaknya sendiri.

Jika melihat dari usia, maka para pejabat ini tentunya belum termasuk golongan manusia di atas 60 tahun. Lalu, jika dilihat dari riwayat kesehatan walaupun tentunya tidak pernah dikatakan ke publik, rasanya pejabat-pejabat ini tidak pernah mengalami peristiwa sakit yang berat seperti trauma kepala berat, serangan stroke berdarah yang membuat koma dalam jangka waktu tertentu, atau keracunan zat yang membuat otak menjadi rusak. Artinya secara sepintas dengan mata awam, kita melihat pejabat-pejabat ini baik-baik saja kesehatannya.

"Malingering"


Lalu, kalau demikian, apakah yang dikatakan para pejabat itu masih bisa dipercaya bahwa dirinya lupa? Tentunya, ini merupakan tugas dari para penegak hukum untuk membuktikan apakah benar-benar lupa atau sebaliknya hanya pura-pura lupa. Proses pemeriksaan dan sampai persidangan nanti tentunya diharapkan terdapat suatu proses yang transparan, jujur, adil, dan memperhatikan fakta-fakta yang ada.

Orang bisa seribu kali bilang lupa, tetapi kalau fakta berkata lain, apa yang dikatakannya bisa gugur, atau malah bisa disebut berbohong.

Bicara tentang gangguan jiwa yang sering kali diungkapkan oleh para orang-orang yang terkena atau terlibat kasus-kasus hukum, saya jadi ingat ada suatu terminologi dalam ilmu kedokteran jiwa yang disebut malingering.

Ini merupakan suatu "gangguan jiwa pura-pura" ketika seseorang berusaha menampilkan dirinya dengan gejala-gejala gangguan jiwa agar terhindar dari proses hukum atau pengadilan. Malingeringmemang bukan diagnosis gangguan jiwa, tetapi memang sepertinya banyak dialami oleh para maling. Salam Sehat Jiwa.

* Psikiater, Pengamat Kesehatan Jiwa


kompas.com

Ibu Penuh Cinta, Anak Tumbuh Sehat

Bukan rahasia jika anak-anak yang berasal dari keluarga miskin lebih rentan menderita penyakit di usia dewasa. Tidak sedikit pula literatur yang menyatakan anak-anak dari keluarga dengan status ekonomi rendah lebih sering menderita penyakit flu dan jantung.

Anak yang berasal dari orangtua yang berpendidikan rendah juga lebih beresiko menderita sindom metabolik, kumpulan gejala penyakit kronik, seperti hipertensi, gula darah tinggi, serta lemak perut.

Kendati begitu, dampak dari keterbatasan ekonomi bagi kesehatan itu bisa ditangkal jika anak-anak tersebut memiliki ibu yang mengasuh penuh perhatian.

Dalam studi yang dilakukan tim dari Universitas British Columbia, psikolog Gregory Miller menganalisa data 1.200 orang dewasa yang pada masa kecilnya berasal dari keluarga miskin. Para peneliti kemudian melakukan survei pada responden untuk mengetahui kadar perhatian ibu mereka.

Para peneliti menemukan, meski dari keluarga miskin namun anak-anak yang diasuh oleh ibu yang memberi perhatian penuh pada kebutuhan emosional anak dan memiliki ikatan yang kuat dengan anaknya, akan tumbuh menjadi anak yang sehat.

Dalam laporan yang dipublikasikan dalam jurnal Psychological Science, para peneliti menyebutkan stres yang dialami anak berpengaruh pada tumbuh kembangnya dan secara permanen mempengaruhi kemampuan tubuh anak melawan infeksi.

Karena itu ibu yang penuh perhatian dan mengasuh anaknya dengan baik akan meningkatkan kesehatan anak di masa depan. "Risiko penyakit yang dihadapi anak-anak dari keluarga miskin itu bisa dikurangi jika orangtuanya memberi perhatian pada tumbuh kembang anak," kata Miller.

Miller menyarankan, untuk menumbuhkan anak yang sehat, orangtua dan guru di sekolah harus bisa mengajarkan cara pengendalian stres, memberikan contoh yang baik dalam mengelola emosi dan memberikan rasa aman pada anak.

kompas.com

Mengapa Wanita Mudah Tersinggung?

Fluktuasi hormon sering dituding menjadi penyebab mengapa sebagian besar wanita lebih mudah mengeluh, menggerutu dan gampang tersinggung. Padahal sifat itu sebenarnya diturunkan secara genetik.

Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa para wanita secara genetik memang diprogram untuk bersikap mudah marah dan agresif. Hal itu antara lain karena wanita memiliki gen reseptor serotonin, yakni yang disebut gen 2C. Kabar baiknya, tidak semua wanita mewarisi gen tersebut.

Hormon serotonin memang dikaitkan dengan perasaan marah dan agresi, baik pada manusia atau hewan. Penelitian telah menunjukkan peningkatan aktivitas serotonin berkaitan dengan berkurangnya perilaku agresif.

Sikap mudah marah tersebut ternyata menjadi salah satu penanda beberapa kondisi gangguan kesehatan, salah satunya adalah hipertensi dan penyakit jantung.

Meski kerap mudah tersinggung, keras kepala, dan gampang marah, ternyata sifat-sifat tersebut dinilai sebagai bentuk kepercayaan diri dan kebanyakan dimiliki oleh orang yang berkepribadian kuat. Karena itu, orang dengan sifat keras kepala itu dianggap menarik bagi lawan jenis.

Tetapi apakah jika sudah mewarisi gen mudah marah hal itu tidak bisa diubah? Tentu saja. Karena faktor lingkungan memiliki kemampuan untuk mengendalikan, mempengaruhi, bahkan mengubah faktor genetik.

kompas.com

Kecemasan dan Depresi Capai 11,6 Persen

Federasi Dunia untuk Kesehatan Jiwa tahun 2011 mencanangkan seruan untuk mendorong investasi di bidang kesehatan jiwa. Di Indonesia, masalah gangguan kesehatan jiwa berupa gangguan kecemasan dan depresi pada orang dewasa secara nasional mencapai 11,6 persen. Investasi di bidang kesehatan jiwa diperlukan untuk menekan prevalensi.

”Populasi orang dewasa mencapai sekitar 150 juta. Dengan demikian ada 1.740.000 orang di Indonesia yang mengalami gangguan mental emosional,” kata Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan Supriyantoro, Rabu (28/9), pada seminar dalam rangka Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di Jakarta.

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) diperingati setiap 10 Oktober. Seminar dengan tema ”Keluarga dan Anak: Investasi Sumber Daya Manusia dengan Mental Berkualitas” itu, mengawali peringatan HKJS tahun ini.

Menurut Supriyantoro, berinvestasi sumber daya manusia di antaranya dimaknai dengan kegiatan prevensi dan promosi kesehatan jiwa bagi kelompok anak dan remaja untuk beradaptasi terhadap tekanan dan konflik yang berlangsung sehari-hari. Tantangan yang harus dihadapi, antara lain, faktor ekonomi dan disfungsi komunikasi di tengah keluarga yang makin meningkatkan masalah psikososial.

”Masyarakat membutuhkan pemahaman masalah psikososial yang dihadapi anak dan remaja, serta mengetahui berbagai kelainan atau gangguan mental yang bisa terjadi pada anak dan remaja,” kata Supriyantoro.

Supriyantoro menyambut program pelayanan informasi yang saat ini diupayakan melalui hotline kesehatan jiwa yang akan dikembangkan oleh 26 rumah sakit jiwa di Indonesia.

Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kemenkes Irmansyah mengatakan, dalam rangka peringatan HKJS tahun 2011 diselenggarakan Konferensi Nasional Kebijakan Kesehatan Jiwa yang pertama, sekaligus sebagai Konferensi Nasional Psikiatri Komunitas II, 7-9 Oktober nanti. Pada waktu bersamaan, pada 8-9 Oktober diselenggarakan Jambore Kesehatan Jiwa di Rumah Sakit Jiwa Marzoeki Mahdi, Bogor.

”Tujuan khusus peringatan HKJS tahun ini antara lain meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap orang dengan masalah kejiwaan sehingga dapat kembali hidup normal dan produktif di tengah masyarakat,” kata Irmansyah.

Ratih Ibrahim, psikolog dan pengelola lembaga konsultasi kesehatan jiwa, dalam presentasinya, mengemukakan pentingnya menumbuhkan sikap dan sifat orangtua yang baik. Orangtua, disebutkan Ratih, merupakan model bagi anak, sebagai contoh yang hidup, contoh pertama, dan contoh utama bagi anak. ”Penting diterapkan konsep 5K, yaitu kasih, konsekuen, konsisten, kompak, dan kompromi,” kata dia.

Pembicara lain, Esther Utomo, dari Pusat Laboratorium Terapi dan Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN), memaparkan persoalan narkotika dan obat-obat terlarang (narkoba). (NAW)


kompas.com

Ini Perbedaan Nutrisi Antara Perempuan dan Laki-laki

Dengan kondisi tubuh yang berbeda, tentu saja, kebutuhan nutrisi pada pria dan wanita juga tidaklah sama. Sangat penting untuk mengetahui perbedaan ini, sehingga Anda dapat memenuhi kebutuhan nutrisi sendiri dan pasangan.

Menurut Idiva, berikut ini beberapa perbedaan kebutuhan nutrisi pria dan wanita.

* Kalsium
Wanita lebih rentan terhadap osteoporosis daripada pria. "Wanita yang bekerja harus mengonsumsi 1.500 g kalsium setiap hari dan berolahraga teratur," kata ahli gizi, Shroff Payal.
Sementara, pria hanya memerlukan 800 g kalsium per hari. Karena bila kebanyakan kalsium, justru dapat menyebabkan kanker prostat.

Rizwana Abazer Biviji, ahli gizi, juga menyarankan konsumsi produk jamur, biji wijen putih, susu sapi dan susu kedelai untuk vegetarian. Ikan, udang, kepiting, dan lobster bisa dikonsumsi karena kandungan kalsiumnya yang tinggi.

*Zat besi
Karena wanita mengalami menstruasi setiap bulan, mereka cenderung menderita anemia. Menurut Kocchar, ahli gizi, wanita musti mengonsumsi 18 mg zat besi per hari sebelum memasuki masa menopause. Sementara, pria hanya membutuhkan 8 mg zat besi per harinya.

Makanan yang mengandung zat besi bisa diperoleh dari sayuran hijau. "Jika Anda tidak dapat memenuhi kebutuhan zat besi sejumlah tersebut, mintalah dokter untuk meresepkan suplemen zat besi," tambahnya.

Untuk non-vegetarian, asupan zat besi juga bisa diperoleh dari daging ayam dan daging kambing. Kedunya memiliki kandungan zat besi yang tinggi.

* Asam lemak omega-3
Kacang dan ikan laut kaya akan asam lemak omega-3 yang membantu sirkulasi darah dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Kebutuhan omega-3 bisa dipenuhi dengan makan salmon, herring atau tenggiri, dua kali seminggu. Atau, bisa juga mengonsumsi berbagai macam kacang-kacangan sebanyak 100 gram per hari.

"Untuk pria, omega-3 bisa melumpuhkan sistem dalam tubuh mereka, jadi mereka tidak perlu mengonsumsi lebih dari 70 gram kacang per hari," menurut Kochhar.
Untuk vegetarian, Biviji menyarankan konsumsi minyak zaitun, kenari, dan biji rami.

* Vitamin D
Vitamin D membantu dalam penyerapan kalsium, sehingga dibutuhkan juga untuk mencegah osteoporosis.

Wanita harus mengonsumsi setidaknya 50 mg vitamin D setiap hari. Namun, cara terbaik untuk mendapatkan vitamin D adalah langsung dari sinar matahari. Vitamin D juga bisa diperoleh dengan mengonsumsi produk susu. "Produk susu dan makanan laut mengandung vitmain D yang baik untuk Anda," menurut Kochhar.

* Serat
Serat dalam makanan diketahui bisa mencegah kanker payudara. Makanan tinggi serat juga dapat menurunkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh, sehingga mengurangi risiko penyakit jantung.

Serat juga membantu wanita yang memiliki penyakit diabetes selama kehamilan dalam mengontrol gula darahnya. Wanita muda diharuskan mengonsumsi 25 gram serat per hari.

Konsumsi biji-bijian, sayuran, buah segar, salad, dan sarapan sereal bisa membuat kenyang lebih lama karena kandungan seratnya yang tinggi.

* Protein
Wanita membutuhkan protein lebih banyak dan karbohidrat lebih sedikit dibandingkan pria. Dalam keadaan hamil dan menyusui, kebutuhan protein juga lebih meningkat.

Kacang kedelai dan telur adalah makanan yang kaya akan protein. Selain itu, sumber protein bisa juga dari susu dan produknya, serta ikan.


TRIBUNNEWS.COM