Selasa, 01 Mei 2012

Waspadai Gangguan Bipolar pada Anak

JAKARTA, KOMPAS.com - Gangguan Bipolar (GB) ternyata tidak hanya bisa terjadi pada orang dewasa, tetapi juga anak-anak bahkan sejak anak dilahirkan. Faktor keturunan atau genetik memiliki andil besar dalam menyebabkan gangguan ini. "Karena faktor gen berperan cukup besar yakni sekitar 79 persen. Jadi, waspadai jika anak sudah kelihatan seperti susah diam, gampang marah dan sulit diatur," kata dr. Handoko Daeng, SpKJ (K), Ketua Seksi Bipolar Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PDSKJI) saat acara seminar media Gangguan Bipolar: Dapatkah Dikendalikan?, Rabu, (25/4/2012), di Jakarta. Menurut Handoko, gangguan bipolar adalah suatu gangguan jiwa yang bersifat episodik dan ditandai oleh gejala-gejala manik, hipomanik, depresi dan campuran. Untuk menegakkan diagnosa bipolar pada anak tidak semudah seperti pada orang dewasa. Karena seringkali gejalanya mirip dengan ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder). ADHD adalah gangguan psikologis yang paling sering ditemui pada anak usia sekolah. Gejala utama ADHD adalah hiperaktivitas dan kesulitan mempertahankan konsentrasi. "Tapi, kalau anak itu sudah besar dan bisa menceritakan perasaan yang dialami, diagnosa akan menjadi mudah," ungkapnya. Kepala Departemen Psikiatri dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dr. AAA Agung Kusumawardani SpKJ (K) menjelaskan, gejala bipolar pada anak berbeda seperti pada orang dewasa. Kalau pada anak, gejala depresi biasanya akan ditunjukkan dengan perilaku penentangan atau penolakan, seperti misalnya tidak mau sekolah (school phobia). "Tapi episodiknya tetap sama. Jadi tetap ada periode waktu dimana dia menentang kemudian setelah diatasi menjadi reda. Kemudian ada periode kambuh lagi," jelasnya. Agung mengungkapkan, pada anak bipolar yang memasuki episode mood mania, anak akan cenderung hiperaktif sehingga seringkali orangtua menganggap anak mereka nakal. Padahal kalau jeli melihat pola tingkah lakunya, orangtua bisa mengetahui bahwa anak mereka sesungguhnya memiliki masalah dengan kejiwaannya. Menurut Agung, gejala bipolar pada anak memang sering berkembang secara lambat sehingga sulit membedakan apakah hal itu memang pertanda kelainan bipolar atau sebagai karakter normal si anak. Dalam tatalaksana dan menegakkan diagnosis bipolar pada anak, psikiater biasanya akan selalu menayakan tentang riwayat keluarga. Karena kalau ada riwayat keluarga, berarti prognosisnya kurang baik karena ada kondisi genetik yang berperan. Anak-anak dengan orangtua atau saudara kandung yang mempunyai penyakit bipolar berisiko empat sampai enam kali lebih mungkin mengembangkan penyakit dibandingkan anak yang tidak mempunyai riwayat gangguan bipolar di keluarga. "Gangguan bipolar pada anak cukup banyak. Di RSCM kita punya poliklinik jiwa anak yang khusus menangani gangguan bipolar anak," tutupnya.

Kurang Relasi Sosial Perburuk Kesehatan

KOMPAS.com - Hubungan sosial memengaruhi kondisi fisik orang terkait. Menurut editor Scientific American Mind, Ingrid Wickelgren, Selasa (24/4), rasa sakit hati yang muncul dalam relasi sosial ataupun rasa sakit fisik terkait dengan bagian otak yang disebut korteks singulat anterior. Artinya, rasa sakit hati memengaruhi kondisi fisik. Studi yang dipublikasi awal tahun ini menunjukkan, ikatan sosial yang dibangun dengan keluarga dan teman menurunkan risiko kematian pada perempuan muda penderita kanker payudara dan meningkatkan daya hidup pasien pascaoperasi jantung. Sebaliknya, kurangnya hubungan sosial bisa memperburuk kondisi kesehatan. Hal ini diperoleh dari analisis data 148 studi yang melibatkan 4.775 warga Alameda County, San Francisco, Amerika Serikat, tahun 2010. Responden ditanyai hubungan sosial mereka, seperti status pernikahan, hubungan dengan keluarga besar dan teman, ataupun afiliasi dengan kelompok tertentu. Tim peneliti menelusuri riwayat kesehatan responden selama 9 tahun kemudian. Hasilnya, mereka yang memiliki indeks jejaring sosial rendah berisiko meninggal dua kali lebih tinggi dibandingkan yang memiliki indeks jejaring sosial tinggi. (SCIENTIFICAMERICAN/MZW) Sumber :Kompas Cetak

Anak Berperilaku Buruk? Salahkan Pola Asuh

Kompas.com - Perilaku agresif terkadang lazim ditemui pada balita, namun jika perilaku tersebut masih bertahan sampai ia bersekolah TK atau SD bisa jadi ada yang salah dengan pola asuh ibunya. Para peneliti dari Universitas of Minnesota, Amerika Serikat, menyebutkan pada umumnya pembawaan bayi adalah tenang. Tetapi pada satu masa di awal usia balita, anak bisa punya kebiasaan suka memukul. Sifat agresif itu mencapai puncaknya saat balita berusia 2,5 tahun, kemudian mereda. Menurut teori, balita berusia 4 tahun lebih bisa dikendalikan dibanding balita usia 2 tahun, dan anak berusia 6 tahun berperilaku lebih baik dibanding rata-rata anak usia 4 tahun. Namun pada kenyataannya ada anak-anak yang berperilaku sulit diatur. Menurut Michael Lorber, peneliti yang melakukan riset ini, ada sebagian anak yang tetap berperilaku agresif sampai ia berusia 6 tahun. "Anak yang masih bersikap agresif di usia TK atau kelas 1 sekolah dasar berpotensi besar membawa sikap itu sampai besar," kata Lorber. Padahal, literatur menyatakan anak yang agresif, seperti suka memukul atau melempar benda saat tantrum, cenderung bermasalah di sekolah, beresiko tinggi depresi, bahkan suka melakukan kekerasan pada pasangannya kelak. Dalam penelitian yang dilakukan Lorber terhadap 267 ibu dan anak, diketahui bayi usia 3 bulan pun sudah bisa meniru. Jika sejak bayi si ibu bersikap kurang sabar atau suka mengomel, besar kemungkinan bayinya akan tumbuh menjadi anak berperilaku buruk. Sikap agresif anak juga bisa timbul dari pengaruh sekelilingnya, seperti tayangan televisi atau video games. Namun, Lorber menjelaskan bahwa pola asuh bukan faktor tunggal dalam pembentukan perilaku anak karena ada juga pengaruh faktor genetik. Walau begitu, ia menyarankan agar orangtua memberi contoh perilaku yang baik pada anaknya. "Mulailah sedini mungkin. Menjadi orangtua yang sensitif dan merespon kebutuhan sosial dan emosional anak sangatlah penting," katanya. Sumber :The Times

Seks di Usia Dini Memicu Depresi

KOMPAS.com — Penelitian mengindikasikan, melakukan hubungan seks di usia dini berpotensi menimbulkan dampak negatif pada tubuh dan suasana hati (mood) di kemudian hari. Menurut analisis para ahli, hal ini mungkin disebabkan karena di usia belia, sistem saraf pada tubuh masih dalam tahap perkembangan. Meskipun riset ini didasarkan pada uji coba menggunakan hewan pengerat di laboratorium, tetapi para peneliti yakin bahwa temuan ini penting dan mungkin dapat diaplikasikan dalam memahami perkembangan seksualitas manusia. Dalam penelitiannya, para ahli melakukan pengujian terhadap sepasang hamster dewasa. Usia hamster betina dan jantan ini setara dengan usia seorang manusia ketika saat remaja. Hasil penelitian menunjukkan, hamster jantan yang melakukan hubungan seks pada usia muda cenderung menunjukkan perilaku atau tanda-tanda seperti depresi, penurunan berat badan, jaringan reproduksi yang lebih kecil, dan perubahan sel di otak ketimbang hamster yang tidak melakukan hubungan seks sama sekali. Hewan yang melakukan hubungan seks pada usia muda juga berisiko mengalami peradangan pada jaringan otak dan memiliki struktur kompleks selular yang lebih rendah di bagian sinyal otak. "Melakukan hubungan seksual di usia dini, bukan tanpa konsekuensi," kata John Morris, peneliti studi, sekaligus seorang mahasiswa doktor di bidang psikologi di Ohio State University. "Hal ini bisa memengaruhi kerentanan pria terkait gejala depresi, dan juga dapat meningkatkan risiko mereka mengalami peradangan di masa dewasa," katanya. Penelitian ini di publikasikan pada pertemuan tahunan Society for Neuroscience di Washington DC, Amerika Serikat. Sumber :zeenews

Inilah 10 Pekerjaan yang Memicu Depresi

KOMPAS.com — Stres atau depresi merupakan masalah umum yang hampir dialami semua pekerja, baik yang di ada kantor maupun di lapangan. Deborah Legge, PhD, konselor kesehatan mental di Buffalo, New York, Amerika Serikat, mengungkapkan, ada beberapa aspek yang berkontribusi atau memperburuk stres terhadap pekerjaan. Salah satunya adalah jam kerja yang tidak menentu. Dari sekian banyak jenis pekerjaan, ada beberapa pekerjaan tertentu yang sangat rentan terhadap stres dan tekanan. Pekerjaan apa saja itu? Berikut ini adalah penjabarannya: 1. Perawat khusus orang-orang jompo dan anak kecil Orang yang bekerja sebagai penyedia layanan perawatan pribadi berada pada urutan teratas sebagai kelompok yang berisiko mengalami depresi, yakni hampir mencapai 11 persen. Christopher Willard, ahli psikolog klinis dari Tufts University, mengatakan, "perawat akan stres karena lebih sering bertemu orang-orang sakit dan tidak cukup mendapatkan dukungan positif dari pasien yang dirawat," katanya. 2. Pelayan restoran "Pelayan restoran termasuk kelompok pekerja yang sering tidak dihargai. Bahkan, mereka cenderung mendapat perlakuan kasar dari pembeli," kata Legge. Menurut Legge, ketika seseorang mengalami depresi, maka akan sulit bagi mereka untuk mempunyai energi dan motivasi. 3. Pekerja sosial Bukan hal yang aneh jika pekerja sosial berada pada kelompok yang berisiko mengalami depresi. Jenis pekerjaan mereka yang selalu berurusan dengan orang yang butuh pertolongan, misalnya, kasus pelecehan terhadap anak-anak atau kegiatan sosial lain, dapat memicu tingkat stres yang tinggi. "Mereka bekerja untuk orang-orang yang membutuhkan bantuan sehingga akan banyak menyita waktu. Saya melihat bahwa banyak pekerja sosial dan profesi peduli lainnya yang cenderung mudah terbakar emosi," kata peneliti. 4. Pekerja sektor kesehatan Dokter, perawat, terapis, dan profesi kesehatan lain berada pada kategori jenis pekerjaan yang berisiko depresi karena cenderung memiliki jam kerja yang tidak teratur dan mempunyai tanggung jawab besar terkait keselamatan nyawa orang lain. "Setiap hari mereka melihat penyakit, trauma, dan kematian, serta berurusan dengan anggota keluarga pasien," kata Willard. 5. Seniman, "entertainer", dan penulis Pekerja di bidang ini cenderung mempunyai pendapatan yang tidak teratur dan jam kerja yang tidak pasti. Orang-orang kreatif mungkin juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan mood (sekitar 9 persen). "Satu hal yang banyak saya lihat pada pekerja hiburan dan seni adalah penyakit bipolar (perubahan mood secara mendadak)," kata Legge. 6. Guru Tuntutan terhadap tenaga pengajar atau guru tampaknya akan terus berkembang. "Ada tekanan berbeda yang mereka terima, dari anak-anak, orangtua, dan sekolah terkait pemenuhan standar nilai. Semua kelompok memiliki tuntutan yang berbeda," kata Willard. 7. Staf administrasi "Pekerja dalam kelompok ini umumnya berada di garis depan dan banyak menerima perintah dari segala arah. Akan tetapi, mereka juga berada di bagian bawah dalam hal kontrol," ungkap Legge. Bahkan, mereka juga lebih mungkin mengalami hari tak terduga dan tidak mendapatkan pengakuan terkait semua pekerjaan yang mereka lakukan. 8. "Maintenance" Mereka harus bekerja dengan jam kerja yang aneh, jadwal bervariasi, dan sering bekerja shift malam. Bahkan pekerja kelompok ini sering mendapat sedikit upah meskipun pekerjaan yang mereka lakukan tergolong sulit, seperti membersihkan kotoran orang lain. 9. Penasihat keuangan dan akuntan Para akuntan memiliki tanggung jawab yang begitu banyak terkait pengaturan keuangan orang lain. Mereka juga akan lebih merasa bersalah apabila klien mereka kehilangan uang. 10. "Sales" Banyak tenaga penjual (sales) yang bekerja pada komisi, yang berarti mereka tidak pernah tahu persis kapan gaji berikutnya akan datang. Pekerja sales juga cenderung melakukan perjalanan jauh, dan harus menghabiskan waktu jauh dari rumah, keluarga, dan teman-teman. "Mereka berada pada kondisi ketika mengalami ketidakpastian pendapatan, tekanan yang luar biasa, dan jam kerja yang panjang. Kondisi ini dapat membuat mereka mengalami stres tinggi," kata Legge. Sumber :health.com

Bedanya Cemas dan Depresi

TANYA : Dok apa bedanya cemas sama depresi? Apakah cemas dapat menjadi depresi atau sebaliknya ? Dan apakah cemas atau depresi dapat menjadikan sakit fisik? Apa saja gejalanya ? (Juned, 30, Cianjur) JAWAB : Mas Juned yang berbahagia, Cemas tentu berbeda dengan depresi, walau pada dasarnya gangguan yang terjadi di sistem otaknya sama yaitu di sistem monoamine (terkait dengan serotonin, dopamin dan norepinefrin). Gangguan cemas sering dikeluhkan pasien sebagai rasa takut, was-was, khawatir sedangkan depresi lebih sering dikeluhkan sebagai keluhan malas, tidak ada semangat, rasa hampa dan perasaan tidak berarti. Kondisi gangguan psikis seperti pada banyak tulisan yang pernah saya buat sangat berhubungan dengan kondisi fisik dan begitupun sebaliknya. Dalam praktek, kita kenal sebagai keluhan psikosomatik. Gejala-gejala gangguan fisik yang berasal dari kondisi psikis yang paling sering dikeluhkan adalah jantung berdebar, sesak napas, sakit atau tidak nyaman di perut, perasaan melayang, sendawa berlebihan, pegal-pegal, kesemutan, gemetaran, keluar keringat dingin, sulit tidur, sulit konsentrasi, kehilangan gairah seksual, kehilangan nafsu makan, malas atau rasa lelah berlebihan. Tentunya hal tersebut harus dikonfirmasi dulu dengan pemeriksaan fisik dan penunjang sebelum didiagnosis sebagai gangguan kejiwaan seperti gangguan psikosomatik. Banyak pasien yang akhirnya menghabiskan biaya besar untuk berbagai pemeriksaan sebelum menyadari bahwa gangguannya termasuk gangguan psikosomatik. Saya dalam praktik sangat sering mendapatkan pasien-pasien yang telah berkeliling dokter spesialis sebelum akhirnya memutuskan ke psikiater. itu pun kadang masih diliputi rasa segan. Saran saya, jika mengalami hal-hal tersebut segera berkonsultasi ke dokter jiwa atau psikiater. Semoga membantu. Salam Sehat Jiwa.

Kekerasan Impulsif oleh Anak-anak

KOMPAS.com - Membaca berita tentang penusukan seorang anak SD oleh teman baiknya sendiri membuat saya kembali prihatin. Kasus yang menimpa siswa SD Negeri Cinere 1, SM (12), yang ditemukan nyaris tewas di got Perumahan Bukit Cinere Indah, Cinere, Kota Depok, Jawa Barat dengan delapan luka tusuk di perut, tangan, dan betis. Anak pasangan tunanetra ini diduga ditusuk teman sekelasnya, Amn (13). Peristiwa itu dipicu oleh pencurian telepon seluler milik SM oleh Amn, Rabu lalu (Kompas.com 18 Feb 2012). Bayangkan seorang anak kecil yang belum juga mencapai masa remaja akhir sudah mampu melakukan perbuatan yang kita anggap keji itu. Lebih mengherankan lagi diketahui bahwa Amn dan SM ini sebenarnya adalah teman baik. Amn juga dikenal sebagai anak baik-baik oleh keluarga dan lingkungan sekitarnya. Dia bukanlah anak yang terkenal nakal atau sering melakukan hal-hal yang meresahkan. Ada hal apa yang terjadi pada Amn (13) yang tega melakukan perbuatan melukai temannya sendiri ? Apalagi penusukan yang dilakukannya bukan hanya sesuatu yang hanya bermaksud melukai saja, tetapi seperti berniat untuk menghabisi nyawa karena dilakukan sampai 8 kali. Lebih menyesakan lagi karena setelah melakukan hal tersebut dia berinisiatif membuang temannya di got, mungkin dengan niat agar tidak diketahui orang. Kesetanankah dia ? Atau ada hal yang bisa menjelaskan hal ini ? Kekerasan impulsif Apa yang terjadi pada Amn (13) yang diketahui tidak memiliki riwayat perilaku kekerasan terhadap orang lain mungkin adalah sesuatu Kekerasan Impulsif. Kekerasan Impulsif adalah suatu reaksi yang tidak terkontrol, yang mempunyai potensi melukai orang lain yang terjadi setelah peristiwa yang dianggap membahayakan individu yang melakukan kekerasan. Pada kasus Amn (13) dan SM (12) ini, kejadian yang memicu adalah ketahuannya Amn oleh SM mencuri HP miliknya yang baru saja dibelikan oleh ayahnya SM sebagai hadiah khitanan. Ketakutan atau rasa malu membuat Amn berbuat nekat dan impulsif dengan melukai SM. Yang tidak masuk di akal adalah ada kesan memang hal yang dilakukan Amn adalah untuk menghabisi nyawa SM agar perbuatan tersebut tidak menyebar. Kalau ini yang benar terjadi sungguh sangat meyesakkan jika kekerasan seperti ini bisa terjadi pada diri anak yang masih sangat muda itu. Walaupun pada banyak kasus kekerasan impulsif oleh anak biasanya masalah pemicunya sepele, namun reaksi perilaku yang diberikan oleh anak yang mengalami masalah ini terkadang lebih dari yang dibayangkan. Menendang, memecahkan barang-barang, memukul dan melukai diri sendiri adalah sebagian reaksi perilaku yang dilakukan oleh anak yang melakukan kekerasan impulsif. Selain itu berteriak, memaki, bicara kasar dan kotor/vulgar adalah reaksi verbal yang juga sering dilakukan oleh anak yang mengalami hal ini. Pertanyaannya adalah di mana si anak belajar melakukan ini ? Dari contoh kasus Amn dan SM, kita bertanya darimana pisau yang dipakai untuk menusuk didapatkan? Apakah ini sesuatu yang direncanakan ? Bagaimana Amn bisa begitu tega menusuk SM berulang kali lalu membuangnya ke got ? Melihat contoh Anak adalah seorang peniru ulung. Segala gerak geriknya pada awal masa kehidupan didapatnya dari meniru orang di sekitarnya. Orang tua dan keluarga adalah tempat belajar pertama kali. Selanjutnya lingkungan akan berkontribusi lebih banyak lagi dalam membuat si anak belajar hal-hal baru termasuk dalam mengungkapkan perasaan dan berperilaku. Melihat kasus Amn dan berita yang pernah saya baca berkaitan dengan hal ini, Amn mengatakan kalau apa yang dilakukannya adalah dari hasil meniru adegan kekerasan di film yang ditontonnya di televisi. Kita bisa membayangkan betapa besarnya efek yang ditularkan lewat media televisi lewat film yang mungkin tidak pas ditonton oleh anak seumur Amn. Contoh-contoh kekerasan lewat penggambaran yang realistis di film-film akan membuat memori yang “abadi” di kepala si anak. Anak tanpa sadar telah “tercuci otaknya” dengan film-film tersebut. Fungsikan keluarga Keluarga dalam hal ini di dalamnya peran keluarga sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat sangat penting. Seperti yang disebutkan di atas, semuanya bermula dari keluarga. Keluarga yang pertama kali berhubungan erat dengan si anak sebelum akhirnya dia mengenal dunia luar. Ada baiknya jika sebelum mengenal dunia luar, orang tua telah membekalinya dengan pengetahuan yang cukup tentang perilaku, perasaan dan bagaimana menyikapi lingkungan yang kadang berbeda dengan yang selama ini dikenal. Orang tua harus bijak dan berperan sebagai “role model” dalam proses ini. Peran yang baik dari orang tua juga diaplikasikan dalam memberikan hal-hal yang bermutu kepada anaknya termasuk dalam membatasi tontonan yang belum sepantasnya ditonton oleh anak. Hal ini sedikit banyak akan melindungi anak dari hal-hal yang negatif dan dapat mempengaruhinya. Terakhir peran agama menjadi penting. Anak yang baik lahir dari keluarga yang baik. Salah satu ciri keluarga yang baik lahir adalah keluarga yang mendidik anaknya dari pemahaman agama yang baik dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Agama bukan hanya sekedar teori pembungkus dan hanya dihapalkan tanpa pernah mengamalkannya. Semoga kita bisa menjadi keluarga yang baik demi masa depan anak-anak kita. Semoga sehat fisik dan jiwanya Salam Sehat Jiwa * Psikiater dan Pengamat Kesehatan Jiwa dari FK UKRIDA